puisi

mengkilat bagai halilintar

bergemuruh bagai gluduk

menyambar tanpa pandang bulu bagai petir

memutar dan merenggut bagai tornado

menghisap seperti segitiga bermuda

mengombang-ambingkan layaknya badai

menghancurkan bagai tsunami

meluluhlantakkan seperti gempa bumi

hanya Dia yang tahu

kapan bahaya itu berhenti mangancam
kapan dinyatakan kata ‘aman’ untuk mengakhiri
kapan kedamaian mencapai titik akhir
kapan dan kapan
sampai Dia yang berbicara
sampai Dia yang mengentakkan palunya di atas meja hijau.

Pengadilan terakhir surga

Published in: on Agustus 27, 2009 at 7:55 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,