Indonesia Ingin Maju

Saya mungkin memang berpikir seperti orang kebanyakan yang menyebut ‘sebenarnya Indonesia kaya’ itu dalam konteks ‘ sebenarnya’ , berarti menurut pandanganku bahwa kata ‘sebenarnya’ mengungkapkan sesuatu yang terjadi secara mata telanjang dan yang dirasakan serta yang actual atau apapun itu yang disebut ‘fakta’. Tapi bagaimana dengan sudut pandang orang yang tak menyukai Indonesia bila kata ‘sebenarnya’ dihilangkan dan yang terlihat oleh mata telanjang itu bukan ‘sebenarnya’. Jadi bahkan keterangan bahwa Indonesia dulu dijajah karena kekayaannya yang mempunyai rempah-rempah dan berbagai SDA yang mengundang nafsu itu serasa sajak-sajak histori dan hanya berupa fakta tak terlihat pada masa modern ini. Karena definisi modern saat ini berpatok pada negara maju seperti Amerika Serikat atau USA dan Jepang .

Menurut data yang ada memang Indonesia penghasil rempah-rempah yang berhasil dengan bukti adanya salah satu faktor ‘global warming’ akibat polusi asap rokok.  Mengapa? Sebab bangsa Indonesia sebagian penduduknya gemar merokok, dan rokok terbuat dari rempah-rempah, selain itu ada berita tentang ganja sebagai ‘obat terlarang’ alias narkoba, sebut saja perusahaan Djaroem, Dji Sam Soe, A Mild dsb. Selain itu Indonesia mempunyai aneka bahan tambang yang mungkin tidak ditemukan di negara lain, contoh emas di Papua yang menjadi sumber pasokan FreePort, penambangan minyak lepas pantai, penambangan pasir di sepanjang wilayah pegunungan (kaliadem, Jogjakarta dan sekitarnya) dan wilayah pantai secara tidak sembunyi-sembunyi. Hutan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke yang memasok kayu dan kelapa sawit ke berbagai daerah dan berapa kalipun berita menyampaikan ‘Ilegal logging’ dan ‘kebakaran’, hutan itu tetap ada di Indonesia. Sayangnya pernyataan walau Indonesia mempunyai SDA yang ‘banjir’ tetapi Indonesia bukan negara maju. Pernyataan tadi memang tak bisa disangkal karena memang yang memproduksi Indonesia, yang mengekspor Indonesia tetapi semboyan tidak berbunyi ‘Indonesia untuk Indonesia’ dalam hal ini. Indonesia bukan pengolah SDA-SDA yang ‘banjir’ tersebut dan negara lainlah yang mengolah bahkan kita mendapat barang kita sendiri dengan harga yang mahal akibatnya. Kita mendapatkan ‘persenan’ dan ‘komisi’ untuk itu tetapi tetap saja tulisan dijajah pada masa lalu hanya berubah sedikit menjadi ‘terjajah’. Hanya faktor tidak terlihat dan terlihatnya saja yang mempengaruhi dan faktor ketidaksengajaan.

Mari kita bedakan bersama, kata dijajah berarti kita merasa menderita dan adanya perang serta kata merdeka belum tercapai, bagaimana bila ‘terjajah’ kita seakan-akan lupa bila kita dijajah, seakan-akan apa yang kita miliki dinikmati sendiri dan kecap kemerdekaan sudah bergaung di lingkup dan komunitas tetapi sayangnya semua keindahan masa lalu yang semua menjadi milik kita ternyata direbut secara halus buktinya bahkan kita tidak tahu reog sudah sampai Malaysia dan hampir diaku utuh oleh mereka selain itu perlahan-lahan SDA surut dan yang tersisa hanya nama ‘Indonesia’ yang mungkin suatu saat nanti mata telanjang kita tidak melihat hutan lagi karena habis.  Baik, saya tentukan saja, perbatasan dijajah dan ‘terjajah’ adalah sebelum tahun 1945 adalah dijajah dan sesudah 1945 adalah ‘terjajah’.

(lebih…)

Iklan

KPI dan siaran langsung sidang DPR

Baru-baru ini terdengar siaran rapat DPR yang dilarang oleh KPI dalam penyiaran secara live.

Pertanyaannya: kenapa KPI melakukan itu

Jawaban             : karena itu dianggap terlalu dibuat-buat bahkan dalam sidang DPR dianggap terlalu lebay (berlebihan-red)

bila ternyata ada yang lebih perlu disensor atas dasar keamanan dan perlindungan terhadap privasi itu mungkin lebih enak didengar ketimbang anggapan berlebihan tadi.

Alasannya yang tidak logis terhadap berlangsungnya persidangan. Karena mau bagaimanapun persidangan lebih baik di publikasikan sebagai momok pemberitaan yang terjadi pada kalangan DPR dan sebagainya, karena mau bagaimana rakyat yang berkuasa di Indonesia. Maka sudah selayaknya rakyat diberitahu apa yang terjadi dalam pemerintahan.

tetapi sayangnya ada kata siaran langsung. se-berlebih-lebihannya siaran tersebut itu yang seharusnya disiarkan dan diberitahukan kepada publik, tidak pandang terhadap editan dan kamuflase persidangan.

Kebijakan pers dan dalam pengambilan gambar secara langsung memang sudah ditentukan oleh KPI sendiri tetapi alangkah eloknya persidangan diberitakan apa adanya agar tidak membohongi rakyat sendiri.

tertera dalam kasus ini pembohongan terhadap publik lewat media massa yang tidak disebarluaskan secara langsung tetapi malah diedit dan dibenahi dulu, kalau dalam tata cara pengambilan gambar perlu diedit supaya mendapat gambar yang bagus itu sih oke-oke saja. tetapi dalam pemberitaan dan isi siaran lebih baik diberitakan apa adanya.

kasus ini sebenarnya bukan masalah pembohongan tetapi masalah pembodohan rakyat karena tidak menceritakan yang sebenarnya sehingga seperti yang terlihat tidak sama seperti yang sebenarnya, itu saja.

Sidang DPR tidak sebanding dengan siaran berefek negatif seperti porno film dan bagian siaran hiburan yang berefek negatif terhadap masyarakat sehingga ditiru oleh publik.

tetapi sudah selayaknya publik bisa membedakan sendiri dan memilah siaran yang cocok untuk diri mereka masing-masing. Bukan dengan bantuan sensor dan siaran yang sebenarnya tidak dibuat-buat maka disiarkan secara langsung.

lebih baik KPI memikirkan bagaimana memberitahu publik dengan kondisi sebenarnya yang berlangsung di pemerintahan dan membantu mencari solusi terhadap pemerintahan dengan menyiarkan yang sebenarnya dari pada melarang siara langsung yang berisi sebenarnya. Karena dalam kasus ini definisi berlebihan belum ditemukan penjelasannya. entah karena perdebatan sengit dalam sidang kabinet atau mungkin siaran yang mempublikan privasi sendiri.

ketika Indonesia …..berada

Setelah membaca sedikit dan menillik sedikit tentang adanya perbedaan yang signifikan antara Indie dan Indonesia, kata-kata yang berbeda tentunya beserta sedikit pengetahuan tentang 2 kaum ini kentara sekali bahwa dalam blog ini akan sedikit dijelaskan mengenai yang terjajah dan penjajah, serta perasaan mereka masing-masing yang sebenarnya tidak ada keromantisan dan mendatangkan mala petaka bagi yang berseteru.

Dalam bentuk modernisasi dan bentuk reformasi serta kebebasan sepenuhnya yang didapat Indonesia dan yang ditelanjangkan lebih lekat ketika seorang guru sejarah dan pengamat sejarah Indonesia dengan guru  atau pengamat sejarah daerah lawan penjajah diketemukan dalam sejarah atau sesama pengamat sejarah negri penjajah  yang membela Indonesia (pemberontak) dikumpulkan dalam satu forum, dalam hal ini tiada yang lebih mungkin bahwa Indonesia adalah negri jajahan yang patut dijajah. Dikarenakan Indonesia mempunyai kekayaan yang tidak hanya patut diperhitungkan tetapi sangat memenuhi criteria daerah jajahan, dengan criteria:

  1. Jumlah talang minyak tersebar
  2. Rempah-rempah  seperti cengkih dan pala serta bumbu berkhasiat bagi kesehatan mudah ditemukan
  3. Para wanita Indonesia saat itu belum diberi label ‘emansipasi wanita’
  4. Ketidak berdayaan dan kurangnya biaya dalam pembangunan negri oleh pemerintah.
  5. Kurangnya pendidikan warga Indonesia
  6. Tidak adanya kekuasaan yang jelas dalam kepemimpinan negri
  7. Ke-primitifan dan kejadulan masyarakat akan teknologi dan pengetahuan
  8. Bodohnya, penjajahan terulang lagi pada masa sesudah kemerdekaan, di mana Indonesia dijajah oleh  Belanda.
  9. Kurang tepatnya prediksi selesainya peperangan kita menyebabkan para tentara terlanjur terlena dengan iming-iming Negara Belanda.

Dalam uraian di atas masih terurai uraian lain yang lebih panjang untuk mengulas adanya ketimpangan social yang jelas kelihatan berbeda masa penjajahan Belanda selama 350 tahun di mana rakyat Indonesia menjadi budak (baboe) di negeri sendiri. Keanehan dan kesalahan penempatan posisi ini menjadi tanggungan semua karena memang ketidaktersediaanya peralatan secanggih penjajah untuk berperang melawannya.

Tetapi ketika diulas lagi menjadi sejarah keromantisan ternyata bagi Indonesia, terlihat dari cara kita mengenang dan memperingati serta mempelajari itu semua sejak kelas 3 sd, semua yang menjadi faktor terpupuknya rasa nasionalisme ada dalam bku sejarah serta yang berhubungan dengan berita tentang neara-negara maju.

rumus untuk mengenali Indonesia pada jaman sekarang pun terlihat lebih mudah untuk dipeajari karena yang terjadi cap menarik kurang dari cap berbahaya, seperti:

1. beras yang harganya serta berbagai jenis makanan tradisional yang mengambang, serta untuk masyarakat pribumi tidak diistimewakan

2. sense of responsibility to the culture and its way to build itbenar-benar melemah

3 berita adanya duta yang mempromosikan Indonesia ke dunia luar berkurang dan malah yang sudah jadi artis dan tidak mengembangkan yang di bawah malah cenderung terlupakan

4. teroris

tetapi setidaknya utang negara harus diniati untuk disaur, setidaknya da usaha dari pemerintah untuk membuat dan mengembangkan lapangan kerja serta membuat yayasan tuna dan SLB, dan adanya pembagian zakat fitrah bagi warganya walau dengan berbagai kerusuhan serta terkorupdi di mana-mana, setidaknya para teroris berusaha dan dicari mati-matian serta media yang berkembang.  Serta serentetan usaha yang lain

ketika Indonesia mendapat sanjungan negri berbudaya, nampak bahwa sektor pariwisata harus dipertahankan untuk mendapat devisa negara, berbagai kebudayaan, adat. upacara ritual mempunyai banay sekali kekhasan Indonesia yang heterogen dan berharap untuk segera diakui dan dipatenkan.

Bila dalam konteks ini kita terdesak negara lain yang menyabet kebudayaan serta ciptaan Indonesia seperti tempe, reog, pendet, lagu kebangsaan, makanan khas, dan jenis-jenis lain. Dan yang terpenting itu adalah aset negara yang digunakan untuk menarik para wisatawan. Hanya masalahanya ke-ekonomian Indonesia carut marut dan perlu diperbaiki sedikit demi sedikit.

Evaluasi dan pendidikan sangat penting juga bagi perkembangan jaman, tetapi rasa rendah hati dan bukan rendah dirilah yang susah didapatkan, karena terkadang saya sendiri melihat bahwa Indonesia terkadang menjadi negri yang sombong tetapi tidak terlihat kelebihan lainnya, bahwa kita bisa dan mampu berusaha, bertuju pada realita dan impian serta perbandingan akurat seberapa kita mampu untuk mencapai, seberapa kita mampu mengurangi kepelitan kita terhadap bangsa sendiri dan menempatkan masyarakat Indonesia menjadi tumpuan adanya bangsa ini dan mampu untuk lebih.

Karena dulunya memang Indonesia negeri yang ramah dan gemah ripah loh jinawi. Itu mengapa Indonesia patut disanjung.

buat KPK (Kemerosotan Profesi Kerja)

Kalau memang terjadi korupsi, harus bagaimana?

Kalau memang tidak sanggup menutupi ketidakmampuannya, harus apa?

Kalau memang para koruptor gak mau ngaku, emang kita bisa maksa?

Bahkan kalau dirunut koruptor ternyata lebih cerdik dari lembaga anti korupsi ini (KPK- Komisi Pemberantasan Korupsi)

Hingga dalam usaha menangkap, mencuri tahu (bukan mencari tahu), menyadap (dengan izin pengadilan negeri), memberondong para praduga bersalah (hampir terdakwa) dengan beribu pertanyaan dan pojokan tanda seru perintah.

Memang disayangkan kerja pemerintah yang kurang tanggap dan kurang cepat . Dalam kasus baru-baru ini buka: kompas, kpk. (lebih…)