Melihat lebih dalam dirimu (aku dan diriku)


Tertanda dan untuk si ‘Jadi dirimu sendiri’

Aku baru tahu ada ketimpangan social, ketika strata derajat menjadi ukuran persahabatan dan kesenjangan social menjadi pertanyaan akan kemanakah diri masa depanmu akan tetap seperti atau berubah dan lepas dari keluargamu, di manakah seharusnya kamu berada sekarang dan akan berteman dengan siapa. Karena aku memang bukan orang sembarangan dan patut diperhitungkan.


Aku tidak pintar, bukan sosok yang cantik, cerdaspun hanya didapat ketika cerdas itu dibutuhkan, aku tidak hidup sebagai orang kaya dan aku tidak terllau mencintai diriku, dan menganggap aku memang bodoh.
Sosok-sosok yang berhasil dan sukses berkelebat dalam benakku sebagaimana adanya yang kusebut mereka ada di mata masyarakat karena memang mereka berhasil menemui kemampuannya dan mengembangkan seperti yang sudah diketahui orang banyak.

Aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa dalam hidup dan berdasar kesederhanaan. Hanya itu yang perlu kalian tahu, dengan kondisi pertemanan yang tidak terlalu akrab sampai belum ada yang hingap atau melewatkan waktu dikamarku. Dalam artiu aku dan sahabatku tidak akrab lagi dan sudah tidak melewatkan waktu bersama lagi setidaknya semoga untuk hari-hari yang lalu saja dan tidak berkelanjutan.


Sebenarnya yang kuketahui tidaklah banyak untuk sekedar mengerti saja dan sedikit mengutak-atik yang disebut derajat dan di mana akan menempatkan diri ketika aku ketahuan bahwa aku orang yang berada dan menurut teori di atas aku berada pada kelompok pertemanan yang sekalangan denganku di tingkat atas. Dan ternyata itu menyebalkan karena yang menjadi pertanyaan adalah ke mana harga dirimu bila kau berteman dengan kalangan bawah dan penangkis untuk pertanyaan membosakankan ini, bahwa lebih berwarna ketika kamu menjadi biasa-biasa terhadap dirimu sendiri dan orang lain ketika sikapmu sebenarnya memuakkan ketika melebih-lebihkan diri sendiri, ketika kamu menjadi sederhana dan memiliki dirimu seutuhnya selayaknya ‘Aku adalah pemimpin para yang sederhana.’


Keuntungan lagi ketika kamu adalah sederhana, bahwa belum ada yang mengetahui kamu sehingga kamu mencoba kreatif berseteru dan bercokol dengan dirimu sendiri untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dan kau akan dikenal dengan ciri-ciri kamu sendiri tidak dengan embel-embel kekayaan dan segara kemewahan yang sebernarnya kamu dapat.
Dan lain yang lebih mengasikkan adalah kamu mencari jati diri dengan usaha diri sendiri.


Bila terjadi ketimpangan social dengan teman-teman kayamu yang benar-benar membosankan dan menyebalkan dengan mengumukkan diri sendiri di depan orang banyak:
1. Kalau kamu sebenarnya punya sesuatu yang berbeda tettapi kamu terlalu minder untuk menunjukkan kemampuan itu di hadapan teman-temanmu.
2. Kalau kamu sebenarnya ada tabungan dan ingin menyusul mereka yang kreatif dan inovatif dengan caramu sendiri.
3. Akrablah dengan temanmu satu-satunya yang akan membimbing mereka menuju keberhasilan kelak dan lebih baik kalian berhasil bersama dengan usaha sendiri semaksimal mungkin, inilah perilaku maximal to maximal
4. Mungkin usaha yang dibutukan lebih keras dari mereka yang sudah ‘empunya’ tapi hasilnya adalah kepuasan tidak marjinal tetapi absolute atas pencapaian sama dengan yang empunya tadi.
5. Bahwa sebenarnya kamu perlu menghibur orang tuamu yang bingung akan kebutuhanmu yang begitu banya, cari inisiatif untuk meminimalkan kebutuhan dengan prinsip minimal ke maximal
6. Dengan pengertian kamu tidak comfort dengan lingkunganmu yang menyenjangkan kesosialan itu, contoh SMA John De Britto, mereka menganggap semuanya setara dengan cara mereka sendiri, dan tidak se’mesos’ yang kamu kira.
7. Seharusnya kamu menghargai dirimu apa adanya dan menjadi dirimu sendiri dalam pergaulan adalah penting hukumnya sehingga hidupmu akan terlihat berwarna dengan sendirinya. Tergantung dengan sudut pandangmu

Demikian cuap-cuap dan segala omongkosong kekayaan dipudarkan dan segala kesombongan disingkirkan maka itulah kamu dan dirimu. Atas ketoleran dan strata yang memang harus diakui karena menyangkut kehormatan, tahu dirilah anda bahwa masih ada yang lebih tidak punya daripada anda sehingga bersyukurlah. Terimakasih.

Arsip sosiologi, dan perkembangan jaman.

(*)(*)(*)

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://10fingaqua.wordpress.com/2009/09/19/melihat-lebih-dalam-dirimu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. ini keren menurutku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: