Menilik si Global Warming (pemanasan global)


Berpikir lebih jauh untuk kedepan dan melihat suasana Indonesia saat ini dan saat beberapa tahun sebelum ini  “njeglek”. Bila dulu mobil bukan sesuatu yang umum bahkan bila ditilik jauh ke masa lalu sepeda adalah kendaraan paling umum setidaknya setiap rumah memiliki satu sepeda bahkan hilir mudik paling tidak seperti becak, andong menjadi angkutan umum, bilamana tidak hanya kaum borjuis membawa mobil dan semakin perkembangan jaman bis menjadi angkutan umum. Bahkan sekarang malah posisi motor menjadi kendaraan yang umum dan sudah menjangkau seluruh lapisan masyarakat setidaknya satu rumah memiliki motor. Perkembangan jaman inilah yang disebut faktor utama pemanasan global atau ‘global warming’.

Global warming (pemanasan global) adalah kasus atau kejadian alam yang tak dapat dihindari dan dibiarkan terbengkalai karena ini memuat seluruh kehidupan yang ada di bumi yang menyangkut pada udara yang semakin panas dan jumlah korban penyakit tak tentu semakin bertambah serta kejadian-kejadian alam tak terduga.

Dilihat juga dari perkembangan jaman adanya AC dan pengharum ruangan termasuk banyaknya jendela dan gedung-gedung pencakar langit menjadi penyebab lubangnya lapisan ozon di cakrawala. Bagaimana semua ini menjadi tonggak pemanasan global yang terjadi, selain itu mencairnya es di arktik juga menjadi faktor naiknya permukaan laut dan menimbulkan berbagai bencana seperti tsunami. Sebagian besar juga dikarenakan emisi dari sampah-sampah yang diolah dengan kurang baik atau dibiarkan menumpuk di suatu tempat dan malah dibuang ke sungai. Dari mulai mencairnya es di kutub dan penimbunan sampah di sungai serta pencemaran air lainnya menimbulkan bencana banjir terhitung tahun 2003-2005 ada 1429 bencana dan 53,3 % nya akibar siklus hidro meteorologi yakni banjir dan longsor.

Banjir terjadi akibat hujan yang beruntun, sedangkan hujan juga terjadi akibat asap-asap pabrik, asap kendaraan bermotor, asap yang ditimbulkan rokok, tungku-tungku pemanas ruangan yang menumpuk emisi gas karbon atau karbonmonoksida serta karbondioksida menyebabkan uap air mengumpul di awan dan terjadilah kondensasi bila terkena dingin dan turun sebagai titik-titik air. Sayangnya hujan ini tidak sehat karea hujan tersebut mengandung banyak emisi gas karbon.

Bila ditilik lagi penggundulan hutan, kurangnya tanaman dan pohon-pohon di kota menyebabkan gas karbon tidak tersaring dengan baik dan energi matahari tidak dimanfaatkan dengan baik padahal bira dirunut lagi kegunaan pohon bukan hanya pengubah energi surya menjadi bentuk oksigen tetapi juga sebagai perindang sekaligus penghias alami kota. Walaupun penggundulan hutan secara legal memang diijinkan akan tetapi bagaimana dengan yang ilegal logging? penyebab dari hutan gundul juga adalah kebakaran hutan akibat pemanasan global juga. Oleh karena itu, pasti pertanyaannya apakah iu akan terus berputar pada pola tersebut, bila iya maka kata terakhir adalah pemanasan global.

Kehidupan kota yang dipenuhi polusi udara tidak kurang adanya rumah-rumah kaca dan gedung bertingkat dengan penggunaan jendela di kebanyakan gedung ini menyebabkan  sinar ultraviolet matahari tidak terurai dengan baik di bumi tapi malah tertangkap dan terpantul kembali ke atmosfer, hasil penelitian yang menyebutkan bahwa ini penybab lubangya ozon dan pemanasan global karena semakin tipis lapisan pelindung bumi maka bukan yang positif dari matahari yang kita dapatkan tetapi matahari sebagai perusak padahal kesimpulan akhir selalu menyatakan bahwa manusialah si pembuat ulah akan global warming itu sendiri. Banyaknya rumah-rumah kaca dan gedung berjendela banyak adalah faktor pendukung efek rumah kaca yang menyebabkan global warming.

Dari berbagai media didapat bahwa bila pemanasan global tidak tertangani dengan baik, hasil akhirnya adalah bumi hangus akan kepanasan. Terobosan dan inovasi-inovasi telah dicari sedemikian rupa untuk mengurangi emisi gas karbon seperti pengurangan asap – asap penimbun karbon dengan cara ‘sego-segawe’ (kegiatan bersepeda yang dicanangkan pemerintah Yogyakarta) yang berdampak kesehatan tubuh dan pengurangan emisi karbon mati-matian.

Selanjutnya program penjualan emisi karbon ke luar negeri seperti perundingan yang dilakukan Departemen Kehutanan Indonesia ke Norwegia, Jepang, Korea Selatan atau Australia setelah diketahui hutan Indonesia dapat menangkap seidaknya 150-200 ton emisi karbon tiap tahunnya dan tentunya ini menjadi terobosan yang mengagumkan karena gas karbon ini haru dihargai mahal oleh pihak luar. Program ini juga memberi lowongan penuh terhadap perekonomian Indonesia untuk mencapai peningkatan tiap tahunnya dengan efek samping pemanasan global di Indonesia dapat dikurangi selain itu hutan tropis Kalimantan memang renta terhadap kebakaran apalagi tersebut keadaan geografis Indonesia tepat di garis khatulistiwa iklim tropis mutlak. Program ini juga mendapat acungan jempol dari dunia Internasional.

Inovasi lain adalah pemanfaatan energi surya oleh PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) untuk diubah menjadi energi listrik, bila disebut-sebut Amerika sudah lebih maju. Dengan menggunakan energi surya untuk bahan bakar mobil dan barang elektronik lainnya seperti pembuatan robot dan lain-lain. Energi surya memang hanya didapatkan saat matahari sedang bersinar tetapi ini justru inovasi cemerlang juga untuk pengurangan efek global warming.

Pengurangan pemanas ruangan dan pendingin ruangan termasuk AC di rumah dan di gedung-gedung adalah minim adanya, kemajuan jaman menyatakan ‘gengsi’ bila tidak ada AC, pemanas ruangan atau pengharum ruangan. Padahal AC, pemanas ruangan dan pengharum ruangan juga menyebabkan global warming. Bila dirasakan memang dingin dan sejuk di dalam ruangan tetapi bila sudah keluar rumah didekat generator atau mesin AC akan terasa panas karena panas ruangan dibuang keluar dan ini menyeabkan suhu udara luar kering dan panas bila tidak ada pepohonan yang mengimbangi.

Sedangkan inovasi lain seperti pengurangan asap pabrik dan asap rokok belum dapat diusahakan sepenuhnya walau berbagai tempat slogan-slogan sudah dibuat dan didistribusikan dan tempat khusus untuk merokok sudah dibuat tetapi tetap saja penambahan angkutan umum dibuat oleh pemerintah menjadi faktor kemacetan dan penambah polusi udara. Memang pemerintah membuat public transportation untuk mengentaskan kemiskinan dengan memberi peluang pekerjaan serta pengurangan penggunaan kendaraan pribadi tapi justru menambah polusi sebab masih banyak kendaraan pribadi berpolusi tinggi dan contoh Trans Jogja menjadi arena coba-coba saja. Karena mau bagaimanapun orang lebih nyaman bila memakai kendaraan pribadi.

Dinilai tidak kuno, terasering pada sawah dan perbukitan serta reboisasi dan penanaman seribu pohon berikut pembuatan taman kota hingga gerakan jalan sehat menjadi sarana dan sebagai bentuk simpati terhadap kasus ‘global warming’.

Setiap pendapat dan slogan ‘membabi buta’ tersebar di mana-mana, tinggal kita yang harus  tergerak dan punya ‘greget’ untuk membuat inovasi lain sebagai pemacet sekaligus pemusnah global warming. Good luck for your inovation. Keep on spirit of decrease the global warming.

written by : Benedictte Putri Wikandari

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://10fingaqua.wordpress.com/2009/08/26/menilik-si-global-warming/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. kk informasinya ok banget tugas aku jadi cepet selesai !!!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: